
Voxindo.id – Momentum Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober ini menjadi panggilan tegas bagi putra-putri terbaik bangsa yang menempuh pendidikan di luar negeri. Salah satunya datang dari M. Falah Izrodhan, seorang pemuda yang baru saja menuntaskan studi S1 dan S2-nya di Inggris dari kampus-kampus bergengsi.
Falah meraih gelar Bachelor of Arts (BA) in International Relations and Development dari University of Sussex dan melanjutkan studi Master of Science (MSc) di bidang International Public Policy dari Queen Mary University of London. Dengan latar belakang keilmuan yang mendalam tentang hubungan internasional dan kebijakan publik, Falah menolak godaan karier di Eropa untuk kembali ke Tanah Air.
Dalam pernyataannya, Falah Izrodhan menekankan bahwa Sumpah Pemuda harus dimaknai sebagai kontrak sosial dan intelektual bagi generasi muda.
“Bagi saya, Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah yang kita peringati, melainkan sebuah cetak biru (blueprint) semangat yang harus kita serap dan terjemahkan dalam tindakan nyata hari ini. Spirit satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa adalah spirit untuk menyatukan energi, menyelaraskan pikiran, dan fokus pada pembangunan bangsa dan negara,” ujar Falah.
Ia menambahkan, ilmu yang ia peroleh dari kurikulum internasional di Inggris memberikannya perspektif baru dalam melihat tantangan kebijakan dan pembangunan di Indonesia.
“Kebijakan publik internasional mengajarkan saya bagaimana mengelola kepentingan global dan lokal secara sinergis. Pengetahuan ini adalah aset yang harus diinvestasikan kembali di Indonesia, di mana tantangan pembangunan kita sangat kompleks dan unik,” tegas pemuda kelahiran Palembang ini.
Menyadari besarnya potensi pemuda-pemudi Indonesia yang sedang atau telah menyelesaikan studi di luar negeri, Falah secara khusus menyampaikan ajakan untuk kembali dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional.
“Saya tahu, banyak dari kita yang menghadapi dilema antara karier yang mapan di luar negeri atau tantangan pengabdian di Indonesia. Namun, inilah saatnya kita membuktikan bahwa kita bukan hanya mampu bersaing secara global, tetapi juga siap menjadi motor penggerak perubahan di negeri sendiri,” serunya.
Falah mendorong agar para diaspora intelektual tidak ragu untuk terlibat, baik melalui sektor publik, swasta, atau inisiatif sosial di daerah.
“Kepada rekan-rekan yang sedang kuliah di London, di Amerika, di Australia, atau di mana pun: Mari kita jadikan Sumpah Pemuda ini momentum untuk menyatukan tekad. Bawa pulang ilmu terbaik Anda, bawa pulang jaringan yang sudah Anda bangun. Indonesia membutuhkan perspektif segar dan energi baru Anda untuk mencapai cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Karier terbaik adalah karier yang paling bermanfaat bagi bangsa,” pungkasnya.[]
