
JAKARTA, Voxindo.id – Suasana haru mewarnai tayangan podcast Lentera Viral di kanal YouTube ketika Koordinator Aktivis Sumsel Jakarta, Harda Belly, meneteskan air mata saat menceritakan alasannya mendukung dan mengagumi sosok mantan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin. Dalam perbincangan yang berlangsung penuh emosi itu, Harda mengaku sangat sedih melihat kondisi Alex Noerdin yang kini harus menjalani proses hukum dan duduk di kursi roda sebagaimana beredar di media sosial.
“Saya sangat sedih melihat kondisi Pak Alex yang duduk di kursi roda. Beliau adalah sosok yang dulu berpikir keras untuk kemajuan Sumatera Selatan dan kesejahteraan rakyatnya, namun hari ini harus melewati proses hukum yang begitu berat,” ujar Harda dengan mata berkaca-kaca.
Ia menambahkan bahwa Alex Noerdin telah menjalani hukuman selama kurang lebih lima tahun. Menurut HB, perjuangan dan jasa besar mantan Gubernur Sumsel itu tak bisa dihapus begitu saja dari sejarah.
“Saya hanya berharap Presiden dapat terketuk hatinya memberikan pengampunan kepada Pak Alex, agar beliau bisa menikmati masa tua bersama anak dan cucunya,” ungkapnya lirih.
Lebih lanjut, HB juga menuturkan alasan pribadi mengapa dirinya begitu menghormati sosok Alex Noerdin. Ia menyebut bahwa berkat program sekolah gratis yang digagas oleh Alex Noerdin semasa menjabat, banyak masyarakat dari keluarga tidak mampu dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang tinggi termasuk dirinya sendiri.
“Berkat program sekolah gratis Pak Alex, saya bisa seperti sekarang ini. Mungkin bagi orang lain itu hal biasa, tapi bagi kami yang berasal dari keluarga tidak mampu, program itu sangat berarti. Saat saya SMA, tidak ada uang SPP, tidak ada uang pembangunan, semua digratiskan,” kenang Harda dengan suara bergetar.
Harda juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Alex Noerdin atas kebijakan pro rakyat yang dijalankan semasa kepemimpinannya. Ia menegaskan bahwa jika diberi kesempatan untuk bertatap muka secara langsung, ia hanya ingin menyampaikan ucapan terima kasih mewakili masyarakat yang pernah merasakan manfaat dari kebijakan tersebut.
“Kalau saya diberi kesempatan bertemu dengan Pak Alex, tidak banyak yang ingin saya sampaikan. Saya hanya ingin mengucapkan ribuan terima kasih mewakili masyarakat yang dulu terbantu oleh program beliau,” ucapnya dengan tulus.
Lebih jauh, HB menegaskan bahwa dukungannya terhadap Alex Noerdin bukan karena kepentingan politik, melainkan karena rasa kemanusiaan dan penghargaan terhadap jasa seseorang yang telah banyak berbuat untuk rakyat. Ia menyadari bahwa pendapatnya mungkin tidak disukai oleh sebagian pihak, namun ia tetap teguh pada keyakinannya.
“Ini soal kemanusiaan. Tidak semua orang berpandangan sama, dan saya siap menerima hujatan. Tapi saya melihat Pak Alex sebagai pemimpin yang benar-benar memikirkan rakyatnya. Banyak masyarakat merindukan pemimpin seperti beliau,” kata Harda tegas.
Menurut Harda, keberhasilan Alex Noerdin dalam membawa kemajuan Sumatera Selatan tidak bisa dilepaskan dari program-program nyata yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat, seperti sekolah gratis dan berobat gratis. Ia menilai, kebijakan itu merupakan langkah revolusioner yang saat itu menjadikan Sumsel sebagai pelopor layanan publik berbasis kesejahteraan sosial.
“Program Pak Alex bukan sekadar slogan. Saat itu masyarakat yang ingin berobat cukup membawa KTP dan KK. Mau dirawat atau dioperasi, semua dilayani tanpa pandang bulu, tanpa memandang status sosial. Itulah bentuk nyata kepemimpinan pro rakyat,” terang Harda.
Ia pun menutup pernyataannya dengan doa agar Alex Noerdin diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalani masa sulitnya. “Kami masyarakat Sumsel, terutama yang pernah merasakan manfaat dari program beliau, hanya bisa mendoakan semoga Pak Alex diberi kesehatan dan mendapat keadilan yang seadil-adilnya,” pungkas Harda Belly.
Dengan linangan air mata dan penuh ketulusan, HB mengingatkan publik bahwa di balik nama besar seorang tokoh, tersimpan kisah perjuangan, jasa, dan pengabdian yang tak sepatutnya dilupakan. Sosok Alex Noerdin, bagi Harda dan banyak masyarakat Sumsel lainnya, bukan sekadar mantan gubernur, melainkan pemimpin yang pernah benar-benar hadir di tengah rakyat.[]
