
Voxindo.id – Kepergian mantan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin, meninggalkan duka mendalam, terutama bagi kalangan mahasiswa. Di mata para mahasiswa, almarhum bukan sekadar kepala daerah, melainkan figur yang terbuka, mengayomi, dan tak pernah menjaga jarak.
Koordinator Aktivis Sumsel Jakarta (ASJ), Harda Belly, mengenang sosok Alex Noerdin sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan mahasiswa. Menurutnya, selama menjabat sebagai Gubernur Sumsel, Alex tidak pernah menghindar ketika ingin ditemui mahasiswa.
“Beliau itu sosok yang mengayomi semua golongan, terutama mahasiswa. Tidak pernah ada cerita beliau menolak bertemu. Justru beliau terbuka mendengar aspirasi,” ujar Harda, Kamis (26/02).
Harda menuturkan, kedekatan itu tidak hanya sebatas komunikasi, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai program nyata. Di era kepemimpinan Alex Noerdin, banyak program beasiswa yang digulirkan untuk membantu mahasiswa Sumsel melanjutkan pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.
Tak hanya itu, perhatian terhadap mahasiswa perantauan juga diwujudkan melalui pembangunan asrama. Salah satu yang paling dikenang adalah pembangunan asrama mahasiswa Sumsel di Kairo, Mesir, yang menjadi tempat bernaung bagi pelajar asal Sumatera Selatan yang menempuh pendidikan di Timur Tengah.
“Beliau bahkan membangun asrama mahasiswa Sumsel di Kairo. Itu bukti nyata keberpihakan kepada pendidikan dan mahasiswa perantauan. Kami sangat merasakan manfaatnya,” ungkap Harda.
Menurutnya, sosok Alex Noerdin berbeda dengan kebanyakan kepala daerah pada umumnya. Jika sebagian pejabat dinilai sulit ditemui dan lambat merespons komunikasi dari mahasiswa, Alex justru sebaliknya.
“Berbeda dengan kebanyak kepala daerah lainnya, jangankan membangun fasilitas untuk mahasiswa di perantauan, untuk ditemui saja sering kali sulit. Kadang ada kesan takut bertemu mahasiswa karena khawatir dimintai macam-macam. Tapi Pak Alex sangat jauh berbeda,” tegasnya.
Bagi para mahasiswa perantau asal Sumsel, kenangan terhadap Alex Noerdin bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal keteladanan dalam kepemimpinan yang merangkul dan memberi ruang dialog.
“Bagi kami, beliau bukan hanya mantan gubernur. Beliau adalah orang tua bagi mahasiswa perantauan. Banyak kenangan baik yang tak akan kami lupakan,” pungkas Harda. []
