
Voxindo.id — Banyaknya laporan masyarakat Sumatera Selatan terkait kelangkaan gas LPG 3 kilogram (melon) mengemuka dalam siaran langsung TikTok Koordinator Aktivis Sumsel Jakarta (ASJ), Harda Belly, usai santap sahur.
Dalam live tersebut, Harda mengungkapkan dirinya menerima berbagai aduan dari warga di sejumlah kabupaten dan kota di Sumsel yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan LPG 3 kg. Bahkan, di beberapa daerah harga gas melon disebut melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per tabung.
“Ini sangat memberatkan masyarakat kecil. LPG 3 kg itu subsidi negara, diperuntukkan bagi rakyat miskin, bukan untuk dipermainkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegas Harda, Sabtu (21/02)
Menanggapi kondisi tersebut, Harda mendesak seluruh kepala daerah di Sumatera Selatan untuk segera mengambil langkah konkret dengan membentuk satuan tugas (satgas) pengawasan LPG subsidi. Ia menegaskan, pangkalan atau agen yang terbukti nakal harus ditindak tegas.
“Kalau ada pangkalan yang bermain harga atau menimbun, jangan ragu, langsung cabut izinnya. Negara tidak boleh kalah dengan mafia gas,” ujar Harda.
Selain itu, Harda juga mengaku menerima laporan adanya dugaan kelangkaan LPG 3 kg disebabkan oleh penggunaan gas subsidi tersebut oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, praktik tersebut tidak boleh dibiarkan karena bertentangan dengan peruntukan LPG 3 kg yang jelas-jelas hanya untuk masyarakat miskin dan usaha mikro tertentu.
“Saya tegaskan, pengusaha dapur MBG atau SPPG tidak boleh menggunakan gas LPG 3 kg. Itu hak rakyat kecil. Pemerintah harus tegas mengawasi ini,” katanya.
Harda berharap pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum dan Pertamina segera turun ke lapangan untuk memastikan distribusi LPG 3 kg tepat sasaran, sehingga masyarakat tidak terus menjadi korban kelangkaan dan permainan harga. []
