
Voxindo.id — Di bawah langit Desa Jayasari, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, perlawanan rakyat kecil kembali bergema. Bukan dengan senjata, bukan pula dengan amarah, melainkan dengan menancapkan Bendera Merah Putih di atas tanah yang mereka yakini sebagai hak hidupnya, tanah sawah, kebun, dan rumah yang kini diduga telah dirusak oleh PT Mulya Kuarsa Anugrah (MKA).
Didampingi Wakil Rakyat dari PDI Perjuangan, Tika Kartikasari, serta Koordinator Pemuda Pejuang Keadilan (PPK), Harda Belly, warga Jayasari berdiri tegak melawan ketidakadilan yang mereka rasakan. Perusahaan tambang tersebut disebut-sebut dimiliki oleh Mulyadi Jayabaya, mantan Bupati Lebak.
Di tengah aksi itu, suasana berubah haru ketika Ibu Umi, salah satu korban, tak kuasa menahan tangis. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan jeritan hati yang mewakili penderitaan banyak warga.
“Pak Presiden Prabowo, tolong kami… kami ini rakyat kecil. Tanah sawah, kebun, dan rumah kami dirusak tanpa ada ganti rugi. Sekarang kami kehilangan segalanya. Tanah tempat kami mencari nafkah, tempat kami menyandarkan hidup, telah hilang bersama harapan kami,” ucapnya lirih, Selasa (27/01/2026)
Tangisan itu bukan sekadar kesedihan, melainkan jeritan keadilan dari mereka yang merasa kalah oleh kuasa dan modal. Bagi warga Jayasari, tanah bukan hanya aset, tetapi sumber kehidupan, martabat, dan masa depan anak-anak mereka.
Koordinator Pemuda Pejuang Keadilan, Harda Belly, menyebut peristiwa ini sebagai bentuk kezaliman yang nyata dan terbuka. Ia meminta Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk turun tangan dan melihat langsung penderitaan rakyat kecil di Jayasari.
“Ini peristiwa luar biasa zalim. Negara tidak boleh kalah oleh kekuatan modal. Kami mohon Presiden Prabowo untuk dapat membantu, karena rakyat kecil sedang menjerit meminta keadilan,” tegas Harda.
Sementara itu, Tika Kartikasari menegaskan komitmennya untuk terus berdiri bersama warga Jayasari hingga hak-hak mereka dipulihkan. Ia menekankan bahwa perjuangan ini bukan baru dimulai hari ini.
“Saya akan terus mendampingi warga Jayasari. Bahkan persoalan ini pernah saya bawa langsung ke DPR RI Komisi XII. Negara harus hadir, sebenarnya pemerintah daerah tahu hal ini tapi seakan tutup mata. Saya akan terus dampingi, rakyat tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian,” ujar Tika.
Aksi menancapkan Bendera Merah Putih itu menjadi simbol perlawanan paling sunyi sekaligus paling keras: bahwa tanah itu masih Indonesia, dan rakyat kecil masih berharap pada keadilan negaranya sendiri.
Di Jayasari, Merah Putih berkibar bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai saksi bisu perlawanan rakyat kecil yang menolak menyerah pada keserakahan. []
