
Voxindo.id — Koordinator Aktivis Sumsel Jakarta (ASJ), Harda Belly, mengingatkan seluruh perusahaan yang beroperasi di Sumatera Selatan agar tidak abai terhadap kelestarian lingkungan, terutama perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan.
Menurut Harda, rentetan bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat belakangan ini harus menjadi pelajaran mahal sekaligus renungan bersama, khususnya bagi korporasi yang selama ini mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan.
“Jangan sampai Sumatera Selatan menunggu bencana besar dulu baru tersadar. Perusahaan harus bertanggung jawab, tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga keseimbangan alam,” tegas Harda, Rabu (14/01/2026).
Ia menilai, praktik pembukaan lahan secara masif, pengelolaan tambang yang tidak ramah lingkungan, serta lemahnya komitmen reklamasi dan reboisasi, berpotensi menjadi bom waktu ekologis yang sewaktu-waktu meledak menjadi bencana.
“Kerusakan lingkungan itu tidak datang tiba-tiba. Ia akumulasi dari pembiaran yang panjang. Banjir, longsor, dan krisis ekologi di daerah lain seharusnya cukup menjadi cermin bagi Sumsel,” ujarnya.
Harda juga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum agar tidak ragu menindak perusahaan yang terbukti melanggar aturan lingkungan. Menurutnya, pengawasan ketat dan penegakan hukum yang konsisten merupakan kunci mencegah kerusakan lebih luas.
“Kalau perusahaan dibiarkan abai, maka rakyat yang akan menanggung dampaknya. Negara tidak boleh kalah oleh kepentingan modal,” pungkasnya. []
