
Musi Banyuasin, Voxindo.id – Tragedi kebakaran sumur minyak ilegal kembali terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Peristiwa di Desa Kali Berau, Kecamatan Bayung Lencir, tersebut dikabarkan menelan enam korban jiwa, lima di antaranya meninggal dunia dan satu mangalami luka bakar yang cukup serius, masih dilakukan perawatan intensif di rumah sakit.
Koordinator Aktivis Sumsel Jakarta, Nopri Agustian, menyoroti keras kejadian ini dan meminta Bupati Muba, Toha Tohet, bertanggung jawab. Ia menduga, selama ini Bupati Toha adalah pemain inti dari praktik ilegal drilling yang marak di wilayah Muba.
“Bupati harus bertanggung jawab. Dugaan keterlibatan Toha dalam aktivitas ilegal drilling tidak bisa diabaikan. Ini tragedi kemanusiaan sekaligus kerugian negara yang luar biasa,” tegas Nopri, Sabtu (13/9).
Nopri juga mendesak Kejaksaan Agung untuk turun tangan menyelidiki dugaan keterlibatan pejabat daerah dalam bisnis haram tersebut. Menurutnya, kerugian negara yang di timbulkan dari aktivitas ilegal tersebut mencapai triliunan, baik itu dari penerimaan pajak maupun dari kerusakan alam.
Nopri juga mencurigai pembiaran terhadap sumur minyak ilegal di Muba bukan sekadar kelalaian, tetapi diduga melibatkan aktor-aktor politik yang bermain di balik layar. Ia juga mengingatkan intruksi dari presiden untuk memberantas tambang ilegal.
“Negara dirugikan hingga triliunan rupiah setiap tahunnya. Selain itu, kerusakan lingkungan di Muba akibat sumur minyak ilegal ini juga tak ternilai. Sesuai instruksi Presiden Prabowo, tambang dan sumur ilegal harus ditertibkan tanpa pandang bulu, termasuk jika melibatkan kepala daerah,” tegasnya.
Ia menambahkan, tragedi di Kali Berau ini bukan kejadian pertama yang seharusnya menjadi alarm serius bahwa aktivitas ilegal drilling bukan hanya soal ekonomi gelap, tetapi juga ancaman bagi keselamatan masyarakat.
“Sudah banyak korban berjatuhan. Jangan lagi rakyat yang terus menjadi tumbal, sementara pejabat aman di balik jabatan dan bermain main dengan setoran,” pungkas Nopri.
